Wawasan Baru 2019 Seputar Kanker, Terutama Penyakit Kanker Payudara dan Kanker Pankreas

Wawasan Baru 2019 Seputar Kanker, Terutama Kanker Payudara dan Kanker Pankreas

Kanker adalah jenis penyakit dimana sel-sel agresif bertumbuh dan membelah menjadi berkembang di luar batas normal. Kanker bersifat invasif (menyerang dan menghancurkan jaringan yang berdekatan) dan/atau bersifat metastasis (menyebar ke lokasi lain di dalam tubuh). Sifat penyakit kanker tersebut menjadi pembeda dari tumor jinak, yang pertumbuhannya terbatas dan tidak menyerang atau bermetastasis, walaupun beberapa jenis tumor jinak juga berkemungkinan menjadi ganas.

Kanker dapat menyerang siapa pun di segala usia, bahkan janin sekali pun. Akan tetapi risiko untuk varietas yang lebih umum cenderung meningkat dengan pertambahan usia. Selain manusia, penyakit kanker juga dapat menyerang hewan. Hampir semua jenis kanker disebabkan oleh kelainan pada materi genetik dari sel yang ditransformasi. Kelainan genetik ini diduga disebabkan oleh efek karsinogen, seperti asap tembakau, radiasi, bahan kimia, maupun agen infeksi.

Misteri pengobatan medis yang benar-benar efektif untuk melawan kanker, masih terus diteliti oleh para ilmuwan. Berikut sedikit ulasan mengenai wawasan baru seputar penyakit kanker berdasarkan hasil penelitian.

Sistem Terapi Kanker Terbaru 2019 : MAEGI

Sel-sel kanker tergolong ahli dalam menghindari deteksi medis. Namun menurut laporan pada 14 Oktober 2019 di jurnal Nature Immunology, para peneliti sedang mengembangkan sistem baru. Para ilmuwan Universitas Yale dapat membuat sel kanker tampak menonjol dan membantu sistem kekebalan tubuh mendeteksi serta menghilangkan tumor yang mungkin terlewatkan oleh bentuk-bentuk imunoterapi lainnya.

Sistem baru yang menggunakan model tikus ini, berhasil mengurangi atau menghilangkan melanoma dan payudara triple-negative serta tumor pankreas. Bahkan meskipun terletak jauh dari sumber tumor primer. Sidi Chen yang merupakan asisten profesor genetika sekaligus penulis senior untuk penelitian ini, mengatakan bahwa sistem ini adalah bentuk imunoterapi yang sama sekali baru.

Imunoterapi telah merevolusi pengobatan kanker, tetapi berbagai terapi yang ada selama ini tidak bekerja efektif pada semua pasien penyakit kanker, bahkan ada yang tidak efektif sama sekali terhadap beberapa jenis kanker. Terapi yang ada selama ini kadang-kadang gagal mengenali semua penyamaran sel kanker secara molekuler. Oleh karena itu, menjadikannya kurang efektif.

Untuk mengatasi kekurangan berbagai terapi kanker yang ada selama ini, lab Chen mengembangkan sistem baru menggunakan terapi gen virus dan teknologi pengeditan gen CRISPR. Alih-alih menemukan dan mengedit potongan DNA serta menyisipkan gen baru, sistem baru yang disebut MAEGI (Multiplexed Activation of Endogenous Genes as Immunotherapy) meluncurkan perburuan besar-besaran dari puluhan ribu gen yang berhubungan dengan penyakit kanker.

Kemudian MAEGI bertindak seperti GPS untuk menandai lokasi sel kanker dan memperkuat sinyal. Dengan demikian, memungkinkan sistem kekebalan tubuh bergerak dengan cepat menemukan dan membasmi sel-sel tumor dan kanker yang mematikan.

Sistem baru yang masih dalam tahap pendalaman ini diharapkan harus efektif terhadap segala jenis kanker, bukan beberapa jenis kanker saja, termasuk jenis kanker yang saat ini kebal terhadap imunoterapi. Para peneliti akan mengoptimalkan sistem agar lebih sederhana dan sedang mempersiapkan uji klinis pada manusia (pasien kanker).

Kombinasi Pengobatan Inovatif Kanker Pankreas

Tim peneliti dari University of Rochester Wilmot Cancer Institute melaporkan bahwa menggabungkan jenis terapi radiasi dengan imunoterapi tidak hanya dapat menyembuhkan penyakit kanker pankreas pada tikus, tetapi juga memprogram ulang sistem kekebalan tubuh manusia untuk menciptakan “memori kekebalan” dengan cara kerja yang mirip seperti vaksin.

Hasilnya, pengobatan kombinasi juga dapat menghancurkan sel-sel kanker pankreas yang telah menyebar ke organ hati yang menjadi tempat umum bagi penyakit kanker bermetastasis. Jurnal Cell Reports menerbitkan penelitian ini, dengan Scott Gerber, Ph.D dan Bradley Mills, Ph.D sebagai penulis penelitian tersebut.

Mereka juga memimpin tim besar kolaborator dari Departemen Bedah University of Rochester (Mikrobiologi dan Imunologi, Patologi dan Laboratorium Kedokteran, Onkologi Radiasi, dan Kedokteran Lingkungan).

Penyakit kanker pankreas bersifat agresif dan para penderitanya umumnya memiliki peluang hidup yang tak lama. Pada lebih dari 80% pasien kanker pankreas, mereka ditemukan sudah dalam stadium lanjut ketika diputuskan untuk menjalani pembedahan. Selain itu, kemoterapi biasanya tidak efektif. Kanker pankreas dikenal sulit untuk diobati karena dikelilingi oleh protein beracun dan jaringan lain yang melindungi sel kanker.

Para peneliti dari Wilmot mencari kombinasi pengobatan inovatif yang dapat melakukan dua hal sekaligus, yakni : mengaktifkan T-cells untuk menyerang kanker dan mengubah immune-suppressing cells menjadi pejuang.

Kombinasi yang mereka gunakan terdiri dari stereotactic body radiotherapy (SBRT) dan interleukin-12 (IL-12). Namun IL-12 masih sering disertai efek samping yang keras. Untuk mengatasi masalah itu, para peneliti masih terus mendalami hal ini untuk meminimalisir efek samping.

Bawang Putih dan Bawang Merah Sahabat Payudara

Bawang putih dan bawang merah adalah bahan utama dalam sofrito (jenis saus bumbu yang digunakan dalam masakan Portugis dan Amerika Latin). Bawang putih dan bawang merah juga bisa menjadi resep menurunkan risiko penyakit kanker payudara. Hal tersebut berdasarkan temuan penelitian para ilmuwan dari University of Puerto Rico dan University at Buffalo.

Studi ini berbasis populasi pertama yang meneliti adanya hubungan antara mengonsumsi bawang putih dan bawang merah dengan penyakit kanker payudara. Hasilnya dipublikasikan pada jurnal nutrisi dan kanker. Gauri Desai sebagai penulis utama studi tersebut, yang merupakan mahasiswa epidemiologi PhD di University at Buffalo, menjelaskan bahwa hasil penelitian menemukan bahwa wanita di Puerto Rico tinggi asupan bawang putih dan bawang merah di dalam sofrito, dikaitkan dengan rendahnya risiko kanker pada payudara.

Faktanya wanita yang lebih dari 1 kali per harinya mengkonsumsi sofrito, ternyata memiliki risiko penurunan sekitar 67% terhadap kanker payudara, dibandingkan wanita yang tak pernah atau jarang mengonsumsi sofrito. Gagasan penelitian ini berawal dari bukti sebelumnya yang secara ilmiah menunjukkan bahwa mengonsumsi bawang putih dan bawang merah memiliki efek baik berupa perlindungan terhadap penyakit kanker.

Puerto Rico merupakan tempat yang tepat untuk penelitian tersebut, karena para wanitanya mengonsumsi bawang putih dan bawang merah dalam jumlah lebih besar dibandingkan para wanita Eropa dan Amerika Serikat. Bawang putih dan bawang merah di Puerto Rico juga dikonsumsi teratur dalam masakan guisos dan dalam masakan Puerto Rico berbahan utama kacang maupun nasi.

Selain itu, Puerto Rico mempunyai tingkat penyakit kanker payudara lebih rendah daripada daratan Amerika Serikat. Lalu mengapa penelitian berfokus pada bawang putih dan bawang merah? Sebab dua bahan tersebut kaya senyawa organosulfar dan flavonol.

Bawang putih juga mengandung senyawa lainnya seperti dialil disulfida dan S-allylcysteine. Sedangkan dalam bawang merah terkandung alk(en)yl sistein-sulfoksida. Senyawa-senyawa tersebut bersifat anti-kanker pada manusia.